Wanita Dijajah Pria Sejak Dulu…
Kenapa saya jadi sok-sok aktivis emansipasi wanita begini?? Sebenarnya, alasannya nggak jauh-jauh dari nasib saya yang masuk STEI di ITB dan berniat ngambil prodi Teknik Elektro. Bidang yang dari zaman Majapahit sudah didominasi sama laki-laki. Padahal, waktu zaman Majapahit, listrik aja belum ada!
Di STEI ITB, jumlah mahasiswanya ada 338. 40-an di antaranya perempuan. Itu juga kebanyakan lebih tertarik sama Teknik Informatika. Perbandingan yang cukup nggak adil… Memang sih, angka ini nggak separah Teknik Mesin. Di sana ceweknya cuma 6 orang dari 150 orang. Beredar kabar bahwa di Teknik Mesin, 50% cowok sudah berubah menjadi gay. Sedangkan 50% lagi adalah pasangannya… (Maaf-maaf nih, anak mesin sendiri yang ngomong begini
Saya jadi penasaran sama nasib perempuan yang jadi minoritas seperti ini. Apa kami akan dapat keringanan?? Atau diperlakukan sama saja seperti yang lainnya? Yang jelas, secara skill, kami bakal kalah sama laki-laki. Sudah jadi rahasia umum bahwa perempuan nggak sepintar laki-laki dalam bidang teknik..
Saya juga mulai mengkhayalkan beberapa hal yang mungkin terjadi kalau saya (dan teman-teman perempuan lainnya) benar-benar masuk jurusan elektro:
——-Scene 1. Lab Elektro.———
Mahasiswi: "Eh, lu aja ya yang kerja. Gw takut kesetrum."
Mahasiswa: "Enak aja. Siapa suruh masuk elektro?!"
——-Scene 2. Kaderisasi Himpunan. Lagi disuruh lari.——-
Calon anggota yang cewek: "Kak, saya udah nggak kuat. Boleh istirahat?"
Senior: "Oh, boleh. Haus nggak? Ini ada air putih…diminum ya…"
Calon anggota yang cowok: "Kak, kok nggak adil? Kita nggak boleh istirahat…"
Senior: "Lho..kalian harusnya terima kasih sama yang cewek. Udah dikasih liat air putih!"
Calon anggota yang cowok: "?!?!?!"
(by the way, cerita seperti ini saya dengar dari Keke. Katanya memang pernah terjadi di ITB…)
——–Scene 3. Wawancara Kerja.———
Saya: "Jadi saya diterima tidak, Pak?"
Bos: "Wah, maaf mbak, kami nggak mau nerima engineer wanita. Walaupun pinter, biasanya engineer cewek kerjanya kalah sama engineer cowok."
Saya: "Tapi Pak…"
Bos: "Pokoknya nggak bisa. Mbak ini selain perempuan, IPnya rendah banget!"
Saya: "…"
———Scene 4. Di sebuah masjid.———-
???: "Saya terima nikahnya dengan mas kawin seperangkat alat solder tunai!"
Tamu Undangan: "Gitu deh kalau mempelai wanitanya tukang listrik…"
Ya..ini sih imajinasi saya aja. Mungkin memang nggak ada yang bener. Saya yakin, di zaman modern seperti sekarang, laki-laki maupun perempuan dihadapkan pada tuntutan sama. Disetarakan dalam suatu standar prestasi yang sama. Sudah bukan masanya lagi bidang-bidang pekerjaan dikotak-kotakkan ke dalam "bidangnya perempuan" atau "bidangnya laki-laki". Perempuan yang menggeluti teknik elektro atau teknik mesin harusnya sih sudah tidak dianggap aneh lagi. Yang aneh adalah orang-orang yang masih menganggap kami ini aneh!
Saya bertekad…saya dan teman-teman perempuan lain yang ingin masuk teknik elektro akan membuktikan bahwa kami juga bisa berprestasi! Lihat saja nanti…Semangat!
















