February 25, 2008

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

Filed under: Uncategorized

 

 

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman [b]"KELADI TIKUS"[/b] ([i]Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber[/i]) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.


Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia . Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh [b]Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD[/b] dari [b]Universiti Sains Malaysia[/b] dan juga pendiri [b]Cancer Care Penang[/b], Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia. Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, [b]Jawa Tengah[/b].


Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi.
 
Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh [b]Lin Qi[/b] di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul [b]Cancer, Yet They Live[/b] karangan [b]Dr Chris K.H. Teo[/b] terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia," kenang Patoppoi sambil tersenyum.


Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat [b]typhonium flagelliforme[/b] itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana.
Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar [b]Rodent Tuber[/b].


"Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.


Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi.
 
Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya.


Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa. Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia.


Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang.


Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut [b]Boni[/b] yang beralamat di [b]Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo[/b].


Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif. Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan [b]Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan[/b], [b]Sampurno[/b], Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat [b]Cancer Care Penang, Malaysia[/b], Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia.


Ternyata saat Patoppoi mendapat buku [b]"Cancer, Yet They Live"[/b] edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya.


Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial [b]Cancer Care Indonesia,[/b] yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di [b]Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo[/b].
 
[b]Cancer Care Malaysia[/b] telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran." tambahnya. Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal.


Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.


Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut. Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien.


Bahkan ada pecandu berat [b]Putaw[/b] dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan [b]racun Narkoba[/b] dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi.


Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa. Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti [b]kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis[/b]. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.


Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial [b]"Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta , telp : 021-4894745[/b]


UNTUK YANG BERISTRI DAN ATAU MAU PUNYA ISTRI !!!!!!!

Filed under: Uncategorized
UNTUK YANG BERISTRI DAN ATAU MAU PUNYA ISTRI !!!!!!! (TERMASUK LAGI !!!!)

 
PESAN-PESAN UNTUK ISTRI - ISTRI
Artikel Muslimah - dari kafemuslimah


Anas berkata, "Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya."


Ummu Humaid berkata, "Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada ‘Aisyah dan memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mendo’a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta memenuhi hak suami"[1]


‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, "Janganlah engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu adalah perhiasan paling indah, dan parfum yang paling baik adalah air."


Abud Darda’ berkata kepada isterinya, "Jika engkau melihat-ku marah, maka redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis."


Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah. Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh rebana, sekalipun. Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi


Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku
Lalu hatiku enggan terhadapmu; sebab hati itu berbolak-balik

Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati
Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi


‘Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti ‘Auf. Ketika dia akan dibawa kepada suaminya, ibunya, Umamah binti al-Haris menemui puterinya lalu berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan yang bahagia dan kewajibannya kepada suaminya yang patut menjadi undang-undang bagi semua wanita. Ia berpesan:


"Wahai puteriku, engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar, dan engkau beralih pada kehidupan yang di dalamnya engkau naik untuk orang yang lalai dan membantu orang yang berakal. Seandainya wanita tidak membutuhkan suami karena kedua orang tuanya masih cukup dan keduanya sangat membutuh-kanya, niscaya akulah orang yang paling tidak membutuhkannya. Tetapi kaum wanita diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula laki-laki diciptakan.


Wahai puteriku, sesungguhnya engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada keluarga yang belum engkau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa dengannya. Ia dengan ke-kuasaannya menjadi pengawas dan raja atasmu, maka jadilah engkau sebagai abdi, niscaya ia menjadi abdimu pula. Peliharalah untuknya 10 perkara, niscaya ini akan menjadi kekayaan bagimu.


Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan qana’ah (merasa cukup), serta mendengar dan patuh kepadanya.

Ketiga dan keempat, memperhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali aroma yang paling harum.


Kelima dan keenam, memperhatikan tidur dan makannya. Karena terlambat makan akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.


Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara keluarga dan kerabatnya. Inti perkara berkenaan dengan harta ialah menghargainya dengan baik, sedangkan berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.


Kesembilan dan kesepuluh, jangan menentang perintahnya dan jangan menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka hatinya menjadi kesal dan jika engkau menyebar-kan rahasianya, maka engkau tidak merasa aman terhadap pengkhianatannya. Kemudian janganlah engkau bergembira di hadapannya ketika dia bersedih, dan jangan pula bersedih di hadapannya ketika dia bergembira"[ 2]


Seseorang menikahkan puterinya dengan keponakannya. Ketika ia hendak membawanya, maka dia berkata kepada ibunya, "Perintahkan kepada puterimu agar tidak singgah di kediaman (suaminya) melainkan dalam keadaan telah mandi. Sebab, air itu dapat mencemerlangkan bagian atas dan membersihkan bagian bawah. Dan janganlah ia terlalu sering mencumbuinya. Sebab jika badan lelah, maka hati menjadi lelah. Jangan pula menghalangi syahwatnya, sebab keharmonisan itu terletak dalam kesesuaian."


Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan Radhitallahu ‘anhu, dan beliau telah menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, "Wahai puteriku, engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini: bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur hujan."


Abul Aswad berkata kepada puterinya, "Jangalah engkau cemburu, sebab kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik perhiasan ialah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah menyempurnakan wudhu.’"


Ummu Ma’ashirah menasihati puterinya dengan nasihat berikut ini yang telah diramunya dengan senyum dan air matanya: "Wahai puteriku, engkau akan memulai kehidupan yang baru… Suatu kehidupan yang tiada tempat di dalamnya untuk ibumu, ayahmu, atau untuk seorang pun dari saudaramu. Engkau akan menjadi teman bagi seorang pria yang tidak ingin ada seorang pun yang menyekutuinya berkenaan denganmu hingga walaupun ia berasal dari daging dan darahmu. Jadilah engkau sebagai isteri, wahai puteriku, dan jadilah engkau sebagai ibu baginya. Jadikanlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya dalam kehidupannya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa suami itu anak-anak yang besar, jarang sekali kata-kata manis yang membahagia-kannya. Jangan engkau menjadikannya merasa bahwa dengan dia menikahimu, ia telah menghalangimu dari keluargamu.


Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karenamu. Tetapi perbedaan antara dirimu dengannya ialah perbedaan antara wanita dan laki-laki. Wanita selalu rindu kepada keluarganya, kepada rumahnya di mana dia dilahirkan, tumbuh menjadi besar dan belajar. Tetapi dia harus membiasakan dirinya dalam kehidupan yang baru ini. Ia harus mencari hakikat hidupnya bersama pria yang telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru, wahai puteriku. Inilah masa kini dan masa depanmu. Inilah mahligaimu, di mana kalian berdua bersama-sama menciptakannya.


Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak me-mintamu melupakan ayah dan ibumu serta saudara-saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan hatinya? Tetapi aku meminta kepadamu agar engkau mencintai suamimu, mendampingi suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya."


Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Udzr ad-Du’ali -pada hari-hari pemerintahan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya. Sehingga muncullah kepadanya beberapa peristiwa yang tidak disukainya berkenaan dengan para wanita tersebut dari hal itu. Ketika dia mengetahui hal itu, maka dia memegang tangan ‘Abdullah bin al-Arqam sehingga membawanya ke rumahnya. Kemudian dia berkata kepada isterinya: "Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau benci kepadaku?" Ia menjawab, "Jangan memintaku bersumpah demi Allah." Dia mengatakan, "Aku memintamu bersumpah demi Allah." Ia menjawab, "Ya."


Kemudian dia berkata kepada Ibnul Arqam, "Apakah engkau dengar?" Kemudian keduanya bertolak hingga sampai kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu lalu mengatakan, "Kalian mengatakan bahwa aku menzhalimi kaum wanita dan menceraikan mereka. Bertanyalah kepada al-Arqam." Lalu ‘Umar bertanya kepadanya dan mengabarkannya. Lalu beliau mengirim utusan kepada isteri Ibnu Abi ‘Udzrah (untuk datang kepada ‘Umar). Ia pun datang bersama bibinya, lalu ‘Umar bertanya, "Engkaukah yang bercerita kepada suamimu bahwa engkau marah kepadanya?" Ia menjawab, "Aku adalah orang yang mula-mula bertaubat dan menelaah kembali perintah Allah kepadaku. Ia memintaku bersumpah dan aku takut berdosa bila berdusta, apakah aku boleh berdusta, wahai Amirul Mukminin?" Dia menjawab, "Ya, berdustalah. Jika salah seorang dari kalian tidak menyukai salah seorang dari kami, janganlah menceritakan hal itu kepadanya. Sebab, jarang sekali rumah yang dibangun di atas dasar cinta, tetapi manusia
hidup dengan Islam dan mencari pahala"[3]


Kepada setiap muslimah yang memenuhi hak-hak suaminya dan takut terhadap murka Rabb-nya karena dia mengetahui hak suaminya atasnya! Inilah contoh sebagian pria yang mensifati isterinya yang tidak mengetahui hak suaminya dan tidak pula memelihara kebaikannya. Ia tidak mempercantik diri dan tidak berdandan untuknya, serta bermulut kasar. Ia mensifatinya dengan sifat yang membuat hati bergetar dan telinga terngiang-ngiang. Camkanlah sehingga engkau tidak jatuh ke tempat yang menggelincirkan ini.

Oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]

IMATekKom 2007

Filed under: Uncategorized
MALAM KEAKRABAN ANTARA MAHASISWA BARU, SENIOR DAN ALUMNI TEKNIK KOMPUTER
IKATAN MAHASISWA DAN ALUMNI TEKNIK KOMPUTER UPI "YPTK" PADANG
IMATekKom UPI "YPTK" PADANG 2007
LOKASI
TAMAN SMU PLUS INS KAYU TANAM  
1-2 Desember 2007 
 
 
 
                                                     Anggota Baru Kalah PeRang KeTua IMATekKom 07 (Brian RiValDo) Yang MeRenungi HaBis KaLah PeRang Mulya SaRi DeWi (Belakang Lagi Ngumpet) Yuni RoZa (DePan) Siapa Ya yang lagi BeRdiri di TemPat KeGelaPan?... Ilma Aulia LaGi Pengenalan DiRi terHaDap PeSerta IMATekKom 07 Nah Lo LaGi BerGaya, TaPi Ini Siapa Ya?... Apa Lagi Nungguin SiaPa Ya?... Ada aPakah GeRangan SamPai DiRiKu di SuRuh MaJu?... Em4nk Apa SaLah DaKu?... Duh En4k TeNan Sudah MenDaki diKasih Makan GraTis + di Potret LaGi. Tambah 1 Lagi Bang KueNya DaKu LaPaR!!.... LaGi MiKiRin Apa Non? SeRius Banget LamuNanNya?....
            
February 24, 2008

SK MEMORIES

Filed under: Uncategorized
AW4NK WITH SK 04 MEMORIES
Lokasi UNIVERISITAS PUTRA INDONESIA "YPTK" PADANG
 
                   
February 14, 2008

“Kesenjangan Digital: Krisis atau Mitos ?”

Filed under: Uncategorized
"Kesenjangan Digital: Krisis atau Mitos ?"


oleh : Donny B.U., M.Si. *

Mampukah kita (akhirnya) menerima kenyataan bahwa kesenjangan digital adalah isu science fiction semata yang diciptakan oleh sekelompok eksklusif manusia-manusia pemuja teknologi informasi (TI)? Ya memang, kesenjangan digital, atau kalau mau dikembalikan ke bahasa nenek-moyangnya adalah digital divide, kerap menjadi "bumbu penyedap" banyak pihak ketika berbicara di depan khalayak.

IT paranoid? IT phobia? Bisa ya, bisa tidak. Tergantung dimana kita berpijak dan ke arah mana kita memandang. Dalam majalah Newsweek edisi 25 Maret 2002, ada satu artikel menarik yang berjudul "Debunking the Myths of the Digital Divide". Menurut artikel tersebut, kesenjangan digital (akhirnya) hanya dipahami sebagai gap antara pemilik/pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak memiliki/menggunakan teknologi (the have nots). Kaum the have, saya yakini benar, sebagai pihak pertama-tama mengada-adakan apa yang kita kenal sebagai kesenjangan digital tersebut.

Mari kita lanjutkan sedikit dari artikel Newsweek tersebut. Artikel tersebut mengutip penelitian yang dilakukan oleh David Card, ekonom dari University of California dan John DiNardo, ekonom dari University of Michigan. Menurut Card dan DiNardo, ternyata komputer menyebabkan semakin melebarnya rentang gaji antara yang tertinggi dengan yang terendah. Penjelasannya begini, peningkatan penggunaan komputer di berbagai aspek pekerjaan meningkatkan kebutuhan tenaga kerja yang high-skilled yang notabene tentu akan membutuhkan gaji yang lebih tinggi. Di lain pihak proses komputerisasi yang dapat melakukan proses-proses pekerjaan rutin, mengurangi kebutuhan tenaga kerja yang low-skilled dan tentu saja akan sesuai kaidah permintaan-penawaran hukum ekonomi, gaji mereka pun akan semakin rendah.

Tentu saja, Card dan DiNardo tidak serta-merta menyalahkan komputer untuk fenomena tersebut. "Dengan peningkatan penggunaan komputer, rentang gaji akan terus melebar jika ternyata diikuti pula dengan terjadinya perubahan kebutuhan terhadap skill dari tenaga kerja," ujar mereka. Masuk akal bukan? Mari kita buka mata dan hati, serta lihat sekeliling tempat kita bekerja saat ini. Apakah hasil penelitian tersebut ternyata benar-benar terjadi?

"The digital divide suggested a simple solution (computers) for a complex problem (poverty). With more computer access, the poor could escape their lot. But computers never were the souce of anyone’s poverty and, as for escaping, what people do for themselves matters more than what technology can do for them", demikian penekanan pada artikel pada majalah Newsweek tersebut.

Sebenarnya, judul artikel yang sedang Anda baca ini saya "pinjam" dari sebuah judul buku yang saya fotokopi dari perpustakaan British Council Jakarta. "The Digital Divide, Facing a Crisis or Creating a Myth?". Buku tersebut terbitan MIT Press Sourcebooks tahun 2001. Di dalamnya ada 20 artikel menarik dari penulis yang berbeda, mencoba menggambarkan apa sih sebenarnya Digital Divide itu. Saya pinjam, saya fotokopi, saya baca, dan saya makin ragu. Sebagian tulisan tersebut ada yang menyatakan bahwa kesenjangan digital memang benar-benar ada, sebagian yang lain menyatakan sebaliknya. Kedua belah pihak sama-sama berlandaskan pada angka-angka statistik.

Sekedar intermezzo, jangan mudah percaya dengan angka statistik. Sesekali, ketika Anda ke toko buku, carilah buku berjudul "Berbohong dengan Statistik", tulisan Darrel Huff dan terbitan KPG tahun 2002. Bacalah di tempat, kalau Anda tidak ingin membelinya, maka Anda akan paham mengapa saya selalu kritis dan menganjurkan untuk tidak mudah percaya angka-angka statistik.

Kembali ke pokok persoalan. Dengan mengkomparasi pengalaman di lapangan dan berlandaskan beberapa pemahaman dari berbagai literatur, akhirnya muncul dalam benak saya beberapa pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya retoris, atau tidak perlu jawaban (kecuali jika Anda nekat untuk menjawabnya, silakan layangkan e-mail kepada saya). Pertanyaan saya sebenarnya sangat mendasar, karena dengan pertanyaan tersebutlah sebenarnya kita bisa mencoba menggali kebenaran dari kesenjangan digital. Berikut ini pertanyaan saya:

 

==========


a) Kalau saya tidak punya ponsel dan Anda punya, apakah antara saya dan Anda telah terjadi kesenjangan digital? Atau kalau Anda tidak punya komputer dan saya punya Pentium IV, terjadikah kesenjangan digital? Kalau ya, apakah kita bisa yakin ini bukan propaganda para penjaja ponsel atau komputer untuk melariskan dagangannya dengan meracuni pikiran saya untuk membeli ponsel atau pikiran Anda untuk membeli komputer yang lebih canggih daripada yang saya miliki?

b) Kalau profesi saya dokter, dan Anda adalah ahli komputer, lalu saya tidak menggunakan komputer seperti Anda, apakah terjadi kesenjangan digital? Kalau iya, untuk menjembatani digital divide itu apakah saya harus punya komputer juga? Kalau demikian caranya, kalau Anda tidak punya stetoskop mengapa tidak Anda tidak disarankan memiliki stetoskop juga? Apakah saya benar-benar membutuhkan komputer sebagaimana kebutuhan Anda?

c) Kalau kesenjangan digital yang dimaksud adalah antar sesama profesi, bukankah lebih tepat kesenjangan informasi? Misalnya petani daerah A lebih paham tentang teknik terbaru pertanian ketimbang petani daerah B, lantaran petani A banyak mendapatkan informasi pertanian dari Internet. Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada punya atau tidaknya komputer dan akses Internet, tetapi tersedianya alternatif akses menuju ke informasi pertanian tersebut. Tidakkah ada cara lain selain menggunakan komputer dan Internet untuk menyamakan ilmu para petani tersebut? Karena tidak semua petani berniat, memiliki waktu atau mampu mengadopsi TI.

Apakah dengan memasang warnet ke daerah B lalu sim-salabim petani di daerah tersebut dapat menjadi lebih maju atau setidaknya setara dengan petani daerah A? Bukankah petani lebih membutuhkan alat membajak dan ilmu pertanian ketimbang diajari komputer dan Internet? Benarkah biaya mendidik petani agar paham komputer dan Internet setara dengan nilai hasil pertaniannya? Ataukah biaya pendidikan komputer tersebut memang lebih murah ketimbang mendatangkan penyuluh lapangan yang secara pro-aktif membimbing para petani? (silakan ganti kata-kata "petani" dan "pertanian"tersebut dengan profesi lainnya, misalnya "guru" dan "mengajar", "dokter" dan "pengobatan", dan sebagainya).

d) Kalau kesenjangan informasi (konsep kesenjangan digital saya anggap tidak relevan lagi) adalah antar dua profesi yang berbeda, apakah mungkin terjadi kesenjangan informasi kalau alat produksi yang digunakannya berbeda? Anggaplah saya tiap hari menggunakan komputer (dan internet) sebagai bagian dari kehidupan dan mata pencaharian saya. Lalu apakah saya bisa secara serta-merta mengatakan bahwa komputer itu sangat penting kepada rekan-rekan saya yang profesinya adalah sebagai petani, guru atau dokter? Saya hanya bisa mengatakan kepada mereka bahwa komputer adalah dapat untuk mengakses informasi lebih dalam tentang suatu keilmuan, tetapi saya tidak bisa memaksakan bahwa kesenjangan informasi harus dijembatani dengan produk digital atau TI.

==========


Kembali kepada fakta yang ada, sekarang kita dikejar oleh ketakutan akan semakin melebarnya kesenjangan digital antar siswa, antar pekerja, antar sekolah, antar institusi bahkan antar negara. Kita berlomba-lomba mengadopsi teknologi terkini, at any cost. Tidakkah terpikirkan oleh kita bahwa nafsu kita tersebut terkadan membuat kita memicingkan mata dan mencibirkan mulut kepada kaum the have nots? Kita kerap memandang lebih rendah derajat mereka yang tidak menggunakan komputer ataupun ponsel.

Gaptek (gagap teknologi) istilah kita! Labelisasi gaptek dan pemahaman buta tentang kesenjangan digital memperburuk kondisi. Selain seperti yang ditulis oleh majalah Newsweek tentang semakin melebarnya rentang gaji dan semakin rendahnya gaji orang-orang yang tidak mampu memiliki keahlian komputer atau kerjanya tergantikan oleh komputer, hal tersebut membuat banyak pihak di Indonesia yang berjuang mendapatkan ilmu dan perangkat komputer. Keluarga, orang tua, anak, sekolah, guru dan murid yang belum atau belum perlu menggunakan komputer dan Internet, akhirnya harus tertatih-tatih berupaya mendatangkan "jendela dunia" digital tersebut dihadapan mereka, karena mereka tidak diberikan opsi untuk memilih alternatif untuk "tidak membeli" atau "tidak menggunakan", perangkat digital apapun bentuknya, berikut dengan solusi alternatifnya.

Dari sistem utangan (dari level ngutang ke tetangga sampai level ngutang ke lembaga donor dan negara lain) hingga sistem cicilan (dari level ngridit sampai level kartu kredit), dilakukan demi memiliki seperangkat alat digital yang sebenarnya belum benar-benar mereka butuhkan. Siapa yang paling diuntungkan?

Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan mengutip bagian pengantar dari buku The Digital Divide.

"No technology, in itsef, will ever eliminate the diffrences that arise among people who effectively utilize a technology and those who do not. Internet content can be created to allows everyone the opportunity to leard read, and as a readers, take full advantage of the information resources that exist and are being created. The divide between those who can read well and those who cannot is a real divide."

*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.


Enjoy it

 

HACKER MANIFESTO

Filed under: Uncategorized

Holla,,

Ini merupakan manifesto yang di buat oleh seorang hacker pertama dengan nick The_mentor untuk lebih jelas siapa org ini silahkan bertanya ke mbah google!

Versi yg saya masukan sudah di translate atau di terjemhakan ke bahasa Indonesia ya! emoticonSenyum

Kutip
Ini adalah dunia kami sekarang… dunia elektron dan sambungan, keindahan sang ‘baud’. Kami menggunakan layanan yang sudah tersedia tanpa membayar harga yang seharusnya betul-betul murah jikasaja layanan tersebut tidak dijalankan oleh orang-orang rakus yang mencari untung, dan kalian menyebut kami penjahat. Kami menjelajah… dan kalian menyebut kami penjahat. Kami mengejar pengetahuan… dan kalian menyebut kami penjahat. Kami ada tanpa perbedaan warna kulit, tanpa perbedaan kebangsaan, tanpa prasangka keagamaan … dan kalian sebut kami penjahat.

Kalian membuat bom, kalian berperang, kalian membunuh, mencurang, dan berbohong kepada kami sambil berusaha meyakinkan kami bahwa ini adalah untuk kebaikan semua, namun kamilah yang jahat.

Ya, aku adalah seorang kriminal.

“Kejahatanku adalah rasa keingintahuanku. Kejahatanku adalah menilai seseorang dari perkataan dan perbuatannya, bukan dari penampilannya. Kejahatanku adalah menjadi lebih pintar dari kalian, sesuatu yang tak akan kalian maafkan.”


Aku adalah seorang Hacker, dan ini adalah manifestoku. Kalian bisa saja menghentikanku, namun kalian tak mungkin menghentikan kami semua …

February 13, 2008

Minang Enterpreneur Expo 2008

Filed under: Uncategorized
Minang Enterpreneur Expo 2008
10-17 February 2008 
 
Acara 
 
                            
 
PANITIA