Hidayatullah.com– Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat,
kaum Muslimin segera mencari pengganti untuk melanjutkan kepemimpinan
Islam. Ketika itu Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu memegang tangan
Umar bin Khaththab Ra dan Abu Ubaidah bin Jarrah Ra sambil mengatakan
kepada khalayak, “Salah satu dari kedua orang ini adalah yang paling tepat
menjadi khalifah. Umar yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai orang yang
dengannya Allah memuliakan Islam dan Abu Ubaidah yang dikatakan Rasulullah
sebagai kepercayaan ummat ini.”
Tangan Umar gemetar mendengar kata-kata Abu Bakar itu, seakan ia
kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah menutup mukanya dan
menangis dengan rasa malu yang sangat. Umar bin Khaththab lalu berteriak,
“Demi Allah, aku lebih suka dibawa ke depan lalu leherku ditebas walau tanpa dosa,
dari pada diangkat menjadi pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar.”
Pernyataan Umar ini membuat Abu Bakar terdiam, karena tidak mengharapkan
dirinya yang ditunjuk menjadi khalifah. Dia menyadari dirinya sangat lemah
dalam mengendalikan pemerintahan.
Tidak setegas Umar, dan tidak sebijak Abu Ubaidah. Tapi akhirnya pikiran
dan perasaan semua orang terarah kepada Abu Bakar. Karena dialah
sesungguhnya yang paling dekat ditinjau dari berbagai aspek untuk
menduduki jabatan khalifah yang teramat berat ini. Seabrek alasan dapat
dikemukakan untuk menunjuk Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dialah yang dianggap
paling dekat dengan Rasulullah dan paling kuat imannya sesuai pernyataan
Nabi, “Kalau iman seluruh ummat Islam ditimbang dengan iman Abu Bakar,
maka lebih berat iman Abu Bakar.” Maka terangkatlah Abu Bakar sebagai
khalifah pengganti Nabi Saw. Saat pertama kali Abu Bakar menginjakkan
kaki di mimbar Rasulullah, ia hanya sampai pada anak tangga kedua
dan duduk di situ tanpa berani melanjutkan ke anak tangga berikutnya,
sambil berpidato, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku diangkat
menjadi pemimpin kalian, tapi aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian.
Jika aku berbuat baik maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat kesalahan
maka luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang lemah di antara
kalian adalah orang yang kuat di sisiku, hingga aku berikan hak kepadanya.
Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika aku
durhaka, janganlah kalian taat kepadaku. ”Sang khalifah berusaha menjaga
wibawa kepemimpinan. Tapi dalam kedudukannya sebagai seorang pemimpin
dia berusaha meyakinkan orang yang di bawah kepemimpinannya bahwa jabatan
adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, bukan penguasaan.
Penguasa adalah satu orang di antara ummat, bukan ummat dalam satu orang.
Abu Bakar tidak menginginkan karena jabatan, dia jadi jauh dengan ummat.
Sebaliknya, dia ingin semakin dekat dengan mereka. Terhadap ketentuan
Nabi dia menyatakan, “Saya lebih rela diterkam serigala daripada merubahnya.”
Demikianlah gambaran ketegangan yang terjadi pada waktu pemilihan jabatan.
Semua orang menolak jabatan, padahal kapasitas para sahabat sangat memadai
untuk memegang kekuasaan. *** Ketika Abu Bakar wafat, Umar bin Khaththab
disepakati tampil sebagai pengganti. Umar yang memegang amanah selama
dua pelita (10 tahun) 6 bulan dan 4 hari berhasil menggurat sejarah yang merubah
peta dunia.
Lelaki perkasa yang digambarkan kekuatannya saat menentang Islam di zaman
jahiliyah sama dengan kekuatan seluruh kaum Quraisy, telah tampil dengan
perkasa pula di zaman Islam membela kebenaran, membayar dosa-dosa
jahiliyahnya. Dia larutkan dalam pengabdian mewujudkan pemerintah yang
bersih dan bertanggung jawab. Kontrolnya berjalan efektif, sehingga seluruh
rakyatnya tidak ada yang luput dari perhatiannya. Ketika penduduk pinggiran
kota kena paceklik, Umar sendiri yang memikul gandum dipundaknya, lalu
mengantarkan ke rakyatnya yang tengah dilanda kelaparan. Lalu penduduk
itu segera dipindahkan ke kota untuk mempermudah pemantauannya.
Suatu malam di kota Madinah kedatangan kafilah yang membawa barang
dagangan. Diajaknya Abdurrahman bin Auf menemani penjaga
kafilah itu semalam suntuk. Tapi tidak jauh dari tempat kafilah itu ada
bayi yang selalu menangis, tidak mau diam. Umar berulangkali menasihati
bahkan memarahi ibunya karena tidak dapat mendiamkan anaknya. Ibu
sang anak itu lalu berkomentar bahwa, “Inilah kesalahan Umar karena
hanya anak yang tidak menyusui yang diberi tunjangan, sehingga anak
yang usianya baru beberapa bulan ini terpaksa saya sapih.” Umar sangat
terpukul mendengar kata-kata ibu itu. Ketika menjadi imam shalat Subuh,
bacaan ayatnya tidak jelas karena diiringi tangis.
Usai shalat langsung diumumkan bahwa seluruh anak kecil mendapat
tunjangan dari baitul mal, termasuk yang masih menyusu. Tegas dan
Sederhana Prinsip ketegasan dan kesederhanaan dipegang kuat oleh
Umar. Para gubernur yang bertugas di daerah cukup kewalahan dengan
sikap itu. Pernah Amru bin Ash, gubernur yang sangat berjasa
menaklukkan Mesir, diberi hukuman cambuk karena seorang rakyat Mesir
melapor bahwa dirinya pernah dipukul sang Gubernur. Orang yang melapor
itu sendiri yang disuruh memukulnya. Pernah juga Abdulah bin Qathin, seorang
gubernur yang bertugas di Hamash, dilucuti pakaiannya lalu disuruh menggantinya
dengan baju gembala, kemudian disuruh menggembala domba beberapa saat.
Sebelumnya ada yang diperintahkan membakar pintu rumahnya, karena salah
seorang rakyatnya bercerita setelah ditanya oleh Umar tentang keadaan
gubernurnya. Dia menjawab, “Cukup bagus, hanya sayangnya karena dia mendirikan
rumah mewah.” Kemudian gubernur itu disuruh memasang kembali bajunya dan dipesan,
“Kembalilah ke tempat tugasmu tapi jangan berbuat demikian lagi.
Saya tidak pernah memerintahkan engkau membangun rumah besar ,” tegas Umar.
Sebaliknya, terhadap gubernurnya yang sederhana, Umar sangat sayang. Seperti yang
dilakukannya terhadap Sa’ad bin Al-Jamhi yang diprotes rakyatnya karena selalu
terlambat membuka kantornya, tidak melayani rakyatnya di malam hari dan tidak
membuka kantor sehari dalam seminggu. Itu dilakukan karena Sa’ad tidak memiliki
pembantu sehingga dia membantu istrinya membuatkan adonan roti. Nanti setelah
adonan itu mengembang, barulah berangkat ke kantor. Sa’ad tidak melayani rakyatnya
di malam hari karena waktu itu digunakan untuk bermunajat dan memohon ampunan
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sengaja tidak membuka kantor sehari dalam
seminggu kecuali di sore hari karena ia harus mencuci pakaian dinas dan menunggu
hingga kering. Kalau di zaman sekarang, model kepemimpinan seperti ini mungkin
dianggap tidak efektif.
Orang menyebutnya manajemen tukang sate, yakni harus mengiris daging sendiri,
menusuk sate, dan membakarnya sendiri. Tentu letak perbedaannya ada pada pola
pikir dan cara pandang. Para sahabat Nabi sangat takut terhadap pertanggungjawaban
di akhirat. Sekecil apapun persoalan ummat menjadi perhatiannya. Berbeda dengan
kebanyakan kepemimpinan saat ini dengan prinsip yang penting ada pembagian tugas,
lalu pandai membuat laporan. Tidak peduli laporan itu fiktif atau bukan. Ditambah
dengan lemahnya kontrol dan pemantauan, maka dimana-mana terjadi penyelewengan.
Mantan Wakil Presiden Adam Malik pernah bertutur, “Semua bias diatur.” Artinya di depan
umum selalu berbicara tentang supremasi hukum, namun dalam kenyataannya
berpura-pura. Ini akibat tidak takut kepada Allah. Baginya bukan siksaan di akhirat
yang mengerikan, tapi hanya risiko dunia. Orang seperti ini terkadang menantang-nantang
akhirat segala.
Inilah yang dimaksudkan ayat Allah dalam surat Az -Zumar ayat 45: “ Dan apabila
nama Allah yang disebut, kesallah orang-orang yang tidak percaya terhadap keberadaan
akhirat. Tetapi apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, mereka
tiba-tiba merasa gembira. ” Sungguh dapat kita bayangkan seperti apa nasib negeri kita
kalau orang-orang yang duduk di puncak kekusaan memiliki orientasi berpikir seperti itu.
Sangat mengerikan. Sungguh tidak keliru bila ummat di zaman kini kembali berkaca kepada
kesederhanaan sahabat.
Alangkah mulianya pribadi Umar bin Khaththab yang membuat peraturan untuk para
gubernurnya:
1. Jangan memiliki kendaraan istimewa
2. Jangan memakai pakaian tipis (halus dan mahal harganya)
3. Jangan makan-makan yang enak-enak
4. Jangan menutup rumahmu bila orang memerlukanmu.
Semua itu dimaksudkan agar para gubernur dapat merasakan apa yang dirasakan
oleh yang dipimpinnya. Semoga pemimpin di negeri ini dapat merenungi beratnya
tanggung jawab memegang amanah rakyat. Bila tidak, bias jadi akan diadili oleh
mahkamah sejarah. Lebih mengerikan lagi tuntutan tanpa pembela di mahkamah
akhirat nanti.*
[Manshur Salbu. Diambil dari Rubrik “Hikmah” di Majalah Hidayatullah / www.hidayatullah.com]