May 27, 2008

Jebak Semua Koruptor

Filed under: Uncategorized
Jebak Semua Koruptor

 

TIKUS adalah hewan yang harus diberantas. Ia membawa penyakit, kotor, dan merusak rumah tinggal. Namun, menangkap tikus bukanlah pekerjaan mudah. Ia gesit dan pandai berkelit. Penangkap tikus yang hanya menggunakan tangan kosong harus siap kecewa. Tikus akan lebih mudah ditangkap dengan jebakan.

SAMA halnya dengan tikus, koruptor harus diberantas. Ia amat merusak dan membahayakan kehidupan kita berbangsa. Namun, menangkap koruptor amatlah sulit. Terlebih manakala korupsi sudah pula menjadi praktik keseharian aparat peradilan.

Mafia peradilanlah yang justru mengatur alur penyelewengan hukum agar para koruptor terlepas dari jerat-jerat keadilan. Mafia peradilanlah, dengan para koruptor, yang akhirnya melahirkan mafia koruptor.

Maka, diperlukan inisiatif cerdas dan tegas untuk mendobrak kesolidan mafia koruptor. Inisiatif itu harus disusun terencana, rapi, sistematis, dan pada akhirnya menjebak agar sang tikus koruptor tidak berkutik.

Wajib

Argumentasi bahwa pengungkapan korupsi tidak boleh direncanakan dalam suatu skenario penjebakan adalah argumentasi yang menyesatkan. Korupsi adalah kasus amat terencana, rapi, dan sistematis dan sering dilakukan oleh orang-orang terpelajar.

Kasus korupsi berjamaah, yang sekarang marak terjadi, konon dilakukan oleh kepala pemerintahan daerah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), orang-orang yang ahli hukum (baca: kriminolog) yang mungkin bergelar profesor dan doktor. Karena itu, Bernard de Speville dalam bukunya, Hong Kong: Policy Initiatives Against Corruption, secara tegas mengatakan bahwa korupsi adalah salah satu kejahatan yang paling sulit dideteksi, diinvestigasi, apalagi dibuktikan.

Menghadapi kejahatan terencana oleh orang-orang terpelajar dan berkuasa demikian, proses investigasinya haruslah progresif. Penjebakan adalah salah satu bentuk progresivitas itu.

Metode penjebakan jelas bukanlah barang haram. Ia justru cara paling efektif untuk mengungkapkan kasus-kasus kejahatan tingkat tinggi sejenis korupsi. Metode ini bahkan sudah menjadi standar pengungkapan kasus-kasus sulit di banyak negara maju. Salah satu metode penjebakan itu biasanya menggunakan penyamaran identitas (undercover) .

Di Amerika Serikat, menurut The Attorney General’s Guidelines on Federal Bureau of Investigation Undercover Investigation, penyamaran dilakukan oleh agen Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk mendeteksi dan mengantisipasi kasus-kasus korupsi, terorisme, dan kejahatan-kejahatan terorganisasi lainnya.

Dalam makalahnya, di seminar internasional perang melawan korupsi di Bangkok tahun 2000, Ralph Horton berpendapat bahwa penyamaran dan penjebakan adalah cara paling efektif untuk membongkar kasus korupsi.

Berkait dengan penyelidikan kasus korupsi dengan cara menjebak ini, baru-baru ini, pada bulan September 2004, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) telah mengeluarkan buku petunjuk Practical Anti-Corruption Measures for Prosecutors and Investigators.

Pada Bab 10 buku tersebut dibahas secara khusus teknik, tata cara, dan strategi operasi penyamaran untuk membongkar kasus-kasus korupsi. Menurut buku ini, operasi penyamaran (undercover operations) adalah pelaksanaan Pasal 50 tentang teknik investigasi khusus kasus korupsi yang diatur dalam United Nation Convention Against Corruption (Konvensi PBB untuk Pemberantasan Korupsi).

Sejalan dengan argumentasi Profesor Satjipto Rahardjo yang menegaskan diperlukannya cara-cara luar biasa untuk memberantas korupsi, buku PBB di atas menegaskan perlunya teknik investigasi khusus guna mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi. Ditegaskan pula, ketika proses penjebakan dilakukan, perlengkapan- perlengkapan semacam audio-video adalah peralatan standar yang diperlukan guna memproduksi alat bukti.

Di Indonesia, penggunaan teknologi untuk memproduksi bukti korupsi dengan teknologi audio-video itu terbuka lebar karena Pasal 12 Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan, dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan.

Contoh kasus sukses

Salah satu contoh cerita sukses penjebakan kasus korupsi tingkat tinggi dilakukan oleh FBI melalui operasi yang dinamakan "Broken Faith".

Dalam kasus penjebakan yang direncanakan secara matang itu, seorang saksi pelapor (cooperating witness) bekerja sama dengan FBI untuk menjebak 12 polisi korup di Washington DC, ibu kota AS. Para polisi ini menerima suap untuk melindungi dan bahkan terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang.

Proses penjebakan direncanakan secara matang, terencana, dan sistematis dimulai pada bulan Mei 1992. Dalam melakukan penjebakan, sang saksi pelapor tidak hanya merekam seluruh pembicaraan, berpura-pura melakukan negosiasi dengan para polisi-misalnya dengan bertemu di hotel-hotel- tetapi lebih jauh sang saksi pelapor bahkan juga berpura-pura menyogok ke-12 polisi korup dengan berbagai macam pemberian.

Salah satunya dengan menyuap setiap polisi sebuah hand phone sehingga keberadaan mereka mudah dideteksi. Tentu saja semua proses penjebakan itu bukanlah pekerjaan mudah. Terlebih lagi yang akan dijebak adalah para polisi yang seharusnya amat mengetahui teknik-strategi penjebakan.

Namun, dengan teknik kerja yang luar biasa, akhirnya terkumpullah bukti-bukti tingkah polah penyuapan dan korupsi ke-12 polisi tersebut. Pada akhirnya, setelah enam bulan melakukan upaya penjebakan, FBI menangkap para polisi korup tersebut setelah semuanya berhasil ditelepon untuk hadir di Hotel Marriott, suatu pertemuan yang diatur seakan-akan untuk mempersiapkan perdagangan kokain yang dilindungi para polisi itu.

Dalam proses selanjutnya, karena sudah tertangkap tangan, dan banyaknya bukti yang dapat dikumpulkan selama proses penjebakan, ke-12 polisi korup itu akhirnya dapat digiring ke hotel prodeo, sembilan di antara mereka mengaku bersalah dan tiga sisanya terbukti bersalah dalam proses persidangan.

Pentingnya saksi pelapor

Dari contoh kasus di atas, terlihat jelas bahwa saksi pelapor yang mau berpura-pura bernegosiasi- bahkan menyuap-dan berinisiatif menjebak para polisi korup tersebut mempunyai peran yang teramat strategis.

Pertama, saksi pelapor inilah yang memberikan informasi awal tentang adanya praktik korup yang dilakukan para polisi tersebut. Selanjutnya, saksi pelapor itu pula yang menjadi aktor pahlawan utama dalam proses penjebakan untuk menghasilkan bukti-bukti korupsi yang tak terbantahkan.

Saking pentingnya posisi saksi pelapor itu, peran-peran "peniup peluit" (whistleblower) kasus korupsi seharusnya amat diperhatikan sebagai salah satu elemen yang harus ada-dan wajib dilindungi-dalam upaya pemberantasan korupsi.

Sudah merupakan lagu lama bahwa saksi pelapor atau saksi korban yang dengan gagah berani berinisiatif melaporkan kasus korupsi justru akan dijadikan pesakitan oleh jaringan mafia korupsi.

Modus operandi gugatan balik pencemaran nama baik, teror fisik maupun mental, penjatuhan sanksi oleh atasan dan sejenisnya adalah lagu-lagu lama yang sering dihadapi oleh pahlawan-pahlawan pembongkar kasus korupsi ini.

Oleh karena itu, Pasal 33 Konvensi PBB untuk Pemberantasan Korupsi secara tegas mengatur tentang perlunya perlindungan bagi para pahlawan korupsi tersebut. Atau dalam konteks Indonesia, teramat penting penyegeraan diberlakukannya undang-undang perlindungan saksi yang drafnya masih saja menggantung di parlemen.

Dalam kasus Khairiansyah (Auditor BPK yang menjebak Mulyana W. Kusumah), upaya-upaya untuk justru menghukum, menggugat dengan dalih pencemaran nama baik, memberikan sanksi, menyatakan dia "pahlawan kesiangan" adalah tindakan-tindakan yang justru koruptif. Alih-alih menjadi pendorong pemberantasan korupsi, tindakan demikian justru akan membuat pelaku korupsi tertawa terbahak-bahak.

Khairiansyah adalah manusia setengah malaikat di negeri korup. Ia adalah "ustadz di kampung maling". Memukuli ustadz justru akan membuat para maling tersenyum lebar. Indonesia justru perlu duplikasi masif Khairiansyah- Khairiansyah yang berani melakukan jebakan-jebakan cerdas atas semua koruptor di negeri ini. Kepada Khairiansyah bukan sanksi yang harus diberikan, tetapi apresiasi telah berprestasi. Terima kasih pahlawan Khairiansyah!

 

Denny Indrayana Anggota Dewan Etik Indonesian Court Monitoring; Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

May 7, 2008

UNDANGAN PERNIKAHAN

Filed under: Uncategorized

UNDANGAN PERNIKAHAN

MAHA SUCI ALLAH YANG TELAH MENCIPTAKAN MAKHLUK-NYA BERPASANG-PASANGAN

YA ALLAH PERKENANKANLAH PUTRA-PUTRI KAMI, 

 

Billy Hendrix, M.Kom (Billy)

dengan

Vivi Resti Darmison, S.Kom (Resti/Vivi)

 

Akad Nikah,

Hari, Sabtu 10 Mei 2008

Tempat, Jl.Raya Bandar Buat No.2

Depan BLPP

 

Pesta

Hari, Minggu 11 Mei 2008

Pukul, 10:00 s/d Selesai 

Tempat, Jl.Raya Bandar Buat No.2

Depan BLPP

 

Serta Aqiqah Anak/Kemanakan/Cucu Kami,

Nadira Vania Khairunnisa

Putri Pertama Dari

Nofra Hidayat dan Vinna Anggraini Darmison, S.Si 

     

 

May 1, 2008

Rahasia 90/10 memang luar biasa!

Filed under: Uncategorized
Rahasia 90/10 memang luar biasa! 
   
Apa Rahasia 90/10? 10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi terhadap kita. 90% 
kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi / memberi respon. Apa artinya? 
Kita sungguh-sungguh tidak dapat mengontrol 10% kejadian-kejadian yang menimpa 
kita. Kita tidak dapat mencegah kerusakan mobil. Pesawat mungkin terlambat, dan 
mengacaukan seluruh jadwal kita. Seorang supir mungkin menyalip kita di tengah 
kemacetan lalu-lintas. Kita tidak punya kontrol atas hal yang 10% ini. 
  
Yang 90% lagi berbeda. Kita menentukan yang 90%! Bagaimana? Dengan reaksi kita. 
Kita tidak dapat mengontrol lampu merah, tapi dapat mengontrol reaksi kita. Jangan
biarkan orang lain mempermainkan kita, kita dapat mengendalikan reaksi kita! 
   
Mari lihat sebuah contoh. Engkau sedang sarapan bersama keluarga. Adik 
perempuanmu menumpahkan secangkir kopi ke kemeja kerjamu. Engkau tidak 
dapat mengendalikan apa yang telah terjadi itu. 
   
Apa yang terjadi kemudian akan ditentukan oleh bagaimana engkau bereaksi.... 
   
Engkau mengumpat. Engkau dengan kasar memarahi adik mu yang menumpahkan 
kopi. Dia menangis. Setelah itu, engkau melihat ke istri mu, dan mengkritiknya 
karena telah menaruh cangkir kopi terlalu dekat dengan tepi meja. Pertempuran 
kata-kata singkat menyusul. Engkau naik pitam dan kemudian pergi mengganti 
kemeja. Setelah itu engkau kembali dan melihat adik perempuan mu sedang 
menghabiskan sarapan sambil menangis dan siap berangkat ke sekolah. Dia 
ketinggalan bis sekolah. Istrimu harus segera berangkat kerja. Engkau segera 
menuju mobil dan mengantar adik mu ke sekolah. Karena engkau terlambat, 
engkau mengendarai mobil melewati batas kecepatan maksimum. Setelah 
tertunda 15 menit karena harus membayar tilang, engkau tiba di sekolah. 
Adikmu berlari masuk. Engkau melanjutkan perjalanan, dan tiba di kantor
 
terlambat 20 menit, dan engkau baru sadar, bahwa tas kerjamu tertinggal. 
   
Hari-mu begitu buruk. Engkau ingin segera pulang. Ketika engkau pulang, 
engkau menemukan ada hambatan dalam hubungan dengan istri dan adikmu. 
Kenapa? Karena reaksimu pagi tadi. 
   
Kenapa hari mu buruk? 
a) Karena secangkir kopi yang tumpah? 
b) Kecerobohan adikmu? 
c) Polisi yang menilang? 
d) Karena dirimu sendiri? 
      
Jawaban-nya adalah D. 
   
Engkau tidak dapat mengendalikan tumpahnya kopi itu. 
Bagaimana reaksi-mu 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan hari mu menjadi buruk. 
   
Ini yang mungkin terjadi jika engkau bereaksi dengan cara yang berbeda. 
   
Kopi tumpah di kemejamu. Adikmu sudah siap menangis. 
Engkau dengan lembut berkata "Tidak apa-apa sayang, lain kali kamu 
lebih hati-hati ya". Engkau pergi mengganti kemejamu dan dan tidak lupa 
mengambil tas kerjamu. Engkau kembali dan melihat adikmu sedang naik 
ke dalam bus sekolah. Istrimu menciummu sebelum engkau berangkat kerja. 
Engkau tiba di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan riang menyalami para 
karyawan. Atasanmu berkomentar tentang bagimana baiknya hari ini buat mu. 
   
Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal 
yang sama, tapi berakhir dengan berbeda. Kenapa? Karena REAKSI kita. 
Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang terjadi. Tapi yang 90% 
lagi ditentukan oleh reaksi kita. 

 

PENJARA PIKIRAN

Filed under: Uncategorized
PENJARA PIKIRAN 
   
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia
 
berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia 
melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu
dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu 
bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran dia 
menghampiri belalang lain itu dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat
 
lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia 
maupun ukuran tubuh?" Belalang itu menjawabnya dengan pertanyaan,
"Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang hidup di alam
bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan." Saat itu si belalang
baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah membuat lompatannya
tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas. 
   
Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami
hal yang sama dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan,
trauma masa lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan 
kebiasaan bisa membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan
potensi kita. 
 
Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan
kepada kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau
benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih memilih 
mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri. 
   
Tahukah Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas 
tali yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya 
tidak bisa bebas jika ada "sesuatu" yang mengikat kakinya, padahal "sesuatu" 
itu bisa jadi hanya seutas tali kecil... 
   
Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa "melompat 
lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "penjara" itu? 
 
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang 
selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda? 
   
Sebagai manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu 
saja kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai 
segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah memang, 
tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan 
terbayar. Pada dasarnya, kehidupan Anda akan lebih baik kalau Anda hidup 
dengan cara hidup pilihan Anda sendiri, bukan dengan cara yang dipilihkan 
orang lain untuk Anda.