February 25, 2009

Caleg Mulai ‘Ngos-ngosan’

Filed under: Uncategorized
Caleg Mulai ‘Ngos-ngosan’       
   
JAKARTA (Pos Kota) – Seorang calon legislatif (caleg) untuk dapat terpilih menjadi anggota legislatif butuh perjuangan keras. Tidak hanya tenaga dan pikiran, tetapi dana miliaran rupiah harus siap keluar kocek agar bisa duduk sebagai wakil rakyat baik di DPRD maupun DPR.

Besarnya dana yang harus disiapkan, tidak jarang membuat caleg mulai ngos-ngosan alias kehabisan ‘amunisi’. Dana tersebut habis karena digerogoti oknum simpatisan atau menjamu konstituen seperti ngopi dan makan.

Terkadang dengan dalih membahas pemantapan untuk meraup suara maksimal pada pemilu legislatif (pileg) yang dijadwalkan digelar 9 April 2009 itu, banyak oknum simpatisan yang nguber caleg meminta uang. Sehingga tidak menutup kemungkinan, kelak pasca pileg banyak caleg, terutama yang gagal menjadi stres atau bahkan gila. Lantaran harta-bendanya ludes terkuras dalam pertarungan menjadi wakil rakyat.

Sesuai dengan KPUD DKI Jakarta, jumlah caleg yang bertarung untuk DPRD sebanyak 2.425 orang. Dari jumlah caleg sebanyak itu, akan memperebutkan 94 kursi.

Ramli Muhammad, caleg dari Parati Golkar Jakarta Utara, mengaku selama menjadi caleg DPRD DKI Jakarta sudah mengeluarkan dana sekitar Rp1 miliar. “Diperkirakan sampai dengan pemilu 9 April 2009 bisa habis Rp1,5 miliar sampai dengan Rp2 miliar,” katanya, Selasa (24/2).

Dana tersebut digunakan untuk sosialisasi dan pendekatan kepada konstituen atau warga. “Baik remaja, kakek-kakek, nenek-nenek, majelis taklim, dan lainnya kami dekati semua,” ucapnya.

RISIKO CALEG
Bagi kalangan remaja dan pemuda, biaya yang dikeluarkan biasanya untuk mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan, seperti sumbangan kaos pertandingan sepak bola atau olah raga lainnya. Sedangkan ibu-ibu majelis taklim dan pengurus mesjid, dana yang dikeluarkan untuk konsumsi kegiatan keagamaan atau perbaikan sound sistem. "Dalam 76 hari kampanye setidaknya, saya telah mendatangi 80 titik di Jakarta Utara, tentunya tidak sedikit dana yang dibutuhkan. Tapi ini sudah risiko sebagai caleg dan saya tidak menyesal."

Syarifudin Halide, caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) Jakarta Utara, juga mengaku banyak mengeluarkan dana kendati tidak sampai miliaran. “Setidaknya perlu mengajak ngopi atau makan-makan calon pemilih atau konstituen. Jadi dana itu untuk sosialisasi. Anggap saja dana itu untuk marketing atau memasarkan diri sendiri,” kata caleg DPRD DKI Jakarta itu.

Sanusi, caleg dari Partai Gerindra daerah pemilihan Jakarta Timur, mengatakan pengeluaran dana untuk keperluan kampaye pemilu tidak bisa dihindari. “Ini sudah menjadi konsekwensi. Bagaimanapun kita harus turun ke bawah agar warga mengetahui siapa yang akan dipercaya membawa aspirasinya di lembaga legislatif (DPRD).”

Parbowo Soenirman, Caleg DPRD dari PAN Dapil Jakarta Timur, mengaku mendapatkan bantuan dari simpatisannya. “Banyak yang membantu dalam pembuatan stiker, spanduk dan bendera. Namun tetap saja ada dana yang dikeluarkan. Soal terpilih atau tidak, memang pasti ada resikonya.”

Gembong Sumartha, Caleg DPRD DKI No. 14 dari Partai Gerindra Dapil 5 Jakarta Barat, mengaku telah mengeluarkan dana untuk maju menjadi caleg. Namun, dana yang dikeluarkan dibatasi hanya untuk hal-hal penting saja, seperti yang menyangkut partai dan konstituennya untuk meraup suara. “Tidak semua kemauan dari simpatisan dipenuhi, kalau dirasa tidak wajar ya saya tolak. Saya lebih suka bila melakukan kontrak politik.”

Gembong megakui pihaknya berkali-kali dikejar-kejar simpatisan yang mengaku punya massa banyak. Mereka datang untuk meminta dana untuk menggalang massa supaya memilihnya. “Tapi, saya tidak mau seperti teman sesama caleg yang sudah jual rumah, karena untuk biaya cari massa dan keperluan lainnya.”

Caleg yang disebut-sebut menjual rumah untuk kepentingan menjaring suara antara lain Gerindra. “Tapi kalau saya menahan diri, karena sadar kemampuan keuangan saya terbatas,” jelasnya.

SIAP MENTAL
Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Pranowo, menyatakan dalam sistem suara terbanyak caleg yang dikenal masyarakat memiliki kans lebih besar terpilih. “Jadi siap-siap saja politikus sejati tersingkir oleh caleg artis yang sudah popler.”

Persoalan stres, frustasi atau apa saja, kata Sigit, pasca pemilu bakal dialami oleh banyak caleg gagal. "Kekecewaan mungkin lebih karena yang bersangkutan gagal terpilih.”

Psikiater RS Pondok Kopi Dr Rafid Hasan berpendapat diperlukan kesiapan mental dari para pelaku atau caleg bila terjun ke dunia politik. “Jika tiddak kuat mental bisa stres.”

Mantan Direktur RS Jiwa Grogol, Suharto Herjan, mengingatkan agar seorang politisi siap mental sebelum maju jadi caleg. Alasannya kalau targetnya tidak terpenuhi, bisa menimbukan stres. Ada beberapa cara terhindar dari strees, misalnya konsultasi dengan dokter atau curhat dengan orang-orang terdekat, sehingga bisa mengurangi beban. “Diperlukan penasehat yang bisa memberikan saran atau masukan kepadanya, bisa dokter, keluarga atau lainnya.”

SUMBANGAN DIBATASI
Ketua KPUD DKI, Juri Ardiantoro, menegaskan besarnya dana sumbangan kampanye ada batasannya. Parpol maksimal menerima sumbangan dari badan usaha Rp5 miliar dan perseorangan Rp1 miliar. Sedangkan untuk calon DPD menerima sumbangan dari badan usaha maksimal Rp500 juta dan dari perseorangan Rp250 juta.

Sumber dana tidak boleh dari BUMN, BUMD dan pihak asing. “Bila parpol, caleg maupun calon DPD melanggar hal itu maka akan dihapus kepesertaannya dalam pemilu,” tegasnya.

Parpol maupun calon anggota DPD harus melaporkan nomor rekening kampanye meliputi nama pemilik, saldo awal. Bila sampai batas waktu 9 Maret tidak melaporkan, KPUD akan menggugurkan kepesertaannya.

Ramdansyah, Ketua Panwaslu DKI Jakarta, mengungkapkan mengenai caleg yang menggunakan jasa preman dalam pemasangan atribut kampanye tidak termasuk pelanggaran pidana. “Yang mengatur dalam peraturan kamapnye ini adalah mengenai titik pelarangan akan pemasangannya. Jasa preman dalam pemasangan tidak diatur dalam UU pemilu.”

MASAK JUAL KOLOR
Artis Lia Amelia mengatakan jadi calon legislatif (caleg) butuh banyak uang. Soalnya, harus mendanai berbagai kebutuhan untuk mengampanyekan dirinya. “Dari bikin kaos sampai bagi-bagi sembako ke masyarakat. Karena itu, uangnya musti kuat. Kalau miskin, bagaimana mau begitu. Masak musti jual kolor,” cetusnya.

Bintang sinetron yang juga penyanyi dangdut tersebut menegaskan akan memilih caleg yang pintar, bermoral bagus dan kaya. Punya segudang uang untuk mengampanyekan dirinya, dan tidak butuh uang itu kembali.

Karenanya, dia mengemukakan tanpa bermaksud berprasangka buruk, ada kekhawatiran bila untuk dana kampanye harus jual barang atau pinjam uang sana-sini. “Saya khawatir nanti kalau jadi anggota DPR atau DPRD, kerjanya cuma cari uang untuk mengembalikan utang atau membeli barang-barang yang sudah dijual,” ujar cewek yang sedang sibuk membuat video klip untuk album kelimanya ini.
(red/TIM PK)